Yogyakarta selalu dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi tata krama dan kesantunan dalam berinteraksi. Namun, seiring dengan bergeserinya interaksi masyarakat ke dunia maya, tantangan untuk menjaga nilai-nilai tersebut menjadi semakin besar. Fenomena adu argumen yang tidak sehat sering kali terjadi di kolom komentar media sosial, yang kini telah menjadi bagian dari ruang publik baru. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali memahami bagaimana etika berkomentar di ruang publik seharusnya diterapkan agar keharmonisan tetap terjaga, baik di dunia nyata maupun dunia digital.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah daerah bersama komunitas kreatif aktif mengadakan sosialisasi budaya sopan kepada masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kembali bahwa identitas sebagai orang Jogja yang “ngayomi” dan “ngayemi” tidak boleh luntur saat sedang berselancar di internet. Seringkali, anonimitas di media sosial membuat seseorang merasa bebas untuk menghujat atau merendahkan orang lain tanpa beban moral. Padahal, setiap ketikan di layar ponsel memiliki dampak psikologis yang nyata bagi penerimanya dan mencerminkan kualitas kepribadian sang pengirim.
Masyarakat Jogja memiliki modal sosial yang kuat berupa filosofi hidup yang mengutamakan keselarasan. Filosofi ini harus diadaptasi ke dalam cara kita merespons perbedaan pendapat di internet. Saat kita tidak setuju dengan sebuah unggahan, cara kita menyampaikan kritik haruslah tetap berdasarkan fakta dan menggunakan bahasa yang tidak menyerang personal. Dengan menerapkan standar kesantunan yang tinggi, kita sebenarnya sedang membangun ekosistem digital yang aman dan nyaman bagi semua orang, termasuk bagi generasi muda yang sedang belajar menggunakan teknologi.
Menanamkan rasa hormat kepada sesama pengguna internet adalah langkah awal dari sebuah perubahan besar. Melalui gerakan sosialisasi yang masif, diharapkan para netizen tidak lagi terjebak dalam budaya memaki yang destruktif. Ruang publik digital seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan yang mencerahkan, bukan tempat untuk saling menjatuhkan. Jika kita mampu menjaga tutur kata di kolom komentar dengan sebaik saat kita berbicara tatap muka, maka citra Yogyakarta sebagai kota yang berbudaya akan tetap terjaga di mata dunia. Mari kita jadikan jempol kita sebagai sarana menebar kebaikan dan kedamaian bagi sesama.
