Di sudut-sudut jalanan, kita masih bisa menemui para musisi, pelukis sketsa, hingga pantomim yang mencoba mengais rezeki. Bagi seorang Seniman Jalanan, jalanan bukan hanya tempat mencari makan, melainkan ruang ekspresi yang jujur dan tanpa sekat. Namun, tantangan di tahun-tahun belakangan ini menjadi semakin kompleks. Kebijakan tata kota yang lebih mengutamakan estetika visual demi kenyamanan turis seringkali justru meminggirkan keberadaan seniman yang dianggap mengganggu ketertiban. Ruang publik yang dulunya inklusif kini mulai terasa eksklusif, dengan aturan-aturan baru yang membatasi di mana dan kapan mereka boleh berkarya.
Perjuangan untuk tetap eksis di tengah kepungan gedung beton dan digitalisasi adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi. Banyak seniman senior yang mulai merasa asing di kotanya sendiri. Mereka harus bersaing dengan konten-konten instan di media sosial yang seringkali lebih dihargai daripada keahlian menggesek biola atau memahat karakter di pinggir trotoar. Fenomena Modernisasi ini membawa dilema; di satu sisi memberikan akses teknologi, namun di sisi lain menghilangkan kehangatan interaksi langsung antara seniman dan penikmatnya. Nilai-nilai lokal yang dulu menjadi fondasi kuat Jogja kini perlahan tergerus oleh standarisasi gaya hidup urban yang seragam.
Para Seniman Jalanan ini tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai upaya kreatif untuk tetap relevan. Ada yang mulai memadukan pertunjukan jalanan dengan siaran langsung di platform digital, namun tak sedikit pula yang memilih tetap setia pada cara-cara konvensional sebagai bentuk perlawanan terhadap arus zaman. Semangat Bertahan inilah yang sebenarnya menjadi ruh dari Yogyakarta. Mereka adalah penjaga gawang kebudayaan yang memastikan bahwa kota ini tidak kehilangan identitas aslinya. Tanpa kehadiran mereka, Jogja mungkin hanya akan menjadi kota administratif biasa yang kering akan nilai-nilai estetika rakyat.
Pemerintah daerah dan masyarakat luas perlu menyadari bahwa ekosistem seni jalanan adalah aset berharga yang harus dilindungi, bukan dibersihkan. Diperlukan regulasi yang memberikan ruang aman bagi seniman untuk berkarya tanpa rasa takut akan penggusuran. Modernisasi seharusnya menjadi alat bantu, bukan algojo yang mematikan mata pencaharian rakyat kecil. Dengan memberikan tempat bagi para seniman ini untuk tumbuh berdampingan dengan kemajuan zaman, Jogja akan tetap menjadi kota yang romantis, manusiawi, dan penuh dengan kejutan kreatif di setiap sudut jalannya.
