Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta terus mempercantik kawasan perkotaan dengan memperbanyak area hijau terbuka serta jalur pejalan kaki yang ramah disabilitas. Program penambahan taman publik ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas udara sekaligus menyediakan ruang interaksi sosial warga. Pembangunan ini sejalan dengan agenda penataan trotoar wisata budaya yang menonjolkan karakter arsitektur tradisional di sepanjang koridor utama kota.
Perluasan taman kota dilakukan memanfaatkan lahan-lahan cadangan milik pemerintah daerah yang diubah menjadi kawasan resapan air hujan. Penanaman peneduh dari jenis pohon lokal membantu menurunkan efek pulau panas perkotaan yang kian terasa. Penambahan fasilitas bangku taman dan tempat sampah terpilah membuat area terbuka semakin nyaman dikunjungi.
Jalur pejalan kaki diperlebar dengan mengganti material penutup trotoar menggunakan batu alam yang tidak licin saat terpapar air hujan. Pemasangan ubin pemandu bagi penyandang disabilitas netra dipasang secara konsisten di sepanjang jalur pedestrian utama. Fasilitas street furniture berdesain klasik menambah estetika kawasan heritage yang menjadi daya tarik wisatawan.
Penataan ini juga mencakup perapian jaringan kabel listrik dan telekomunikasi di bawah tanah agar visual kawasan kota terlihat lebih bersih. Kerjasama dengan para pemilik toko di sepanjang jalur pejalan kaki dilakukan agar teras bangunan mendukung konsep estetika yang diusung. Kawasan pejalan kaki kini menjadi lebih hidup dan aman bagi pejalan kaki.
Dampak positif dari revitalisasi kawasan ini langsung dirasakan oleh pelaku UMKM yang berada di sekitar rute pejalan kaki. Kenaikan jumlah pejalan kaki mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal seperti kedai kopi dan tempat jajanan tradisional.
Pembangunan perkotaan yang berfokus pada ruang publik hijau menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Yogyakarta semakin memperkuat posisinya sebagai kota kebudayaan yang nyaman untuk ditinggali dan dikunjungi.
