Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat dari kacamata penduduk lokal dan para pendatang yang sudah menetap lama. Jika kita berbicara mengenai hidup di Jogja, kita tidak bisa hanya terpaku pada harga makanan di angkringan yang terletak di pinggiran kota. Realitas ekonomi saat ini menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan, terutama pada sektor properti dan hunian. Harga tanah dan biaya sewa rumah di wilayah Sleman dan Bantul, yang dulunya dianggap terjangkau, kini meroket tajam. Bagi mahasiswa atau pekerja muda, mencari kontrakan yang layak dengan harga di bawah satu juta rupiah per bulan menjadi tantangan yang semakin berat dari tahun ke tahun.
Sektor konsumsi juga mengalami dinamika yang menarik. Memang benar bahwa pilihan makanan murah masih tersedia, namun standar biaya hidup secara keseluruhan telah meningkat. Fenomena menjamurnya kafe-kafe kekinian dengan harga Jakarta di sudut-sudut jalanan Jogja menunjukkan bahwa ada segmentasi pasar yang berubah. Jika seorang wisatawan datang untuk berlibur selama tiga hari, mereka mungkin masih merasakan Jogja sebagai tempat yang murah. Namun, bagi warga yang menerima Upah Minimum Provinsi (UMP) yang tergolong rendah di Indonesia, biaya untuk memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, dan transportasi terasa semakin menghimpit.
Ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran inilah yang seringkali luput dari pemberitaan media nasional. Citra “murah” yang terus dipromosikan terkadang menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi menarik wisatawan, namun di sisi lain menekan daya beli masyarakat lokal. Suara Jogja mencoba membedah fakta ini dengan menyajikan perbandingan data harga komoditas di pasar tradisional dibandingkan dengan lima tahun lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun kenaikan harga terjadi secara perlahan, namun akumulasinya mulai melampaui pertumbuhan pendapatan rata-rata warganya.
Selain masalah perut, biaya gaya hidup di Jogja juga menjadi faktor penentu. Jogja kini bukan lagi sekadar kota budaya yang tenang, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi kreatif yang menuntut mobilitas tinggi. Ketergantungan pada kendaraan pribadi karena transportasi publik yang belum menjangkau seluruh sudut pemukiman menambah beban biaya bulanan bagi masyarakat. Perawatan kendaraan dan biaya bahan bakar menjadi komponen pengeluaran yang tidak sedikit, yang jika dijumlahkan, membuat total pengeluaran bulanan tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Jawa.
